Titik Terendah di Tahun 2014, Pengingat Pentingnya Perencanaan Sejak Muda

Assalamualaikum,

Semoga kalian selalu sehat-sehat saja ya, aamiin. Secara sakit itu nggak enak(in) banget. Apa-apa susah, tidur nggak enak, makan nggak enak, kerja nggak bisa, dan otomatis mengancam isi dompet. 

Apalagi kalau sakitnya tiba-tiba atau penyakit parah, na'udzubillahi min dzalik.



Sebelum-sebelumnya saya nggak pernah cerita tentang betapa beratnya tahun 2014 bagi saya, tapi mungkin sekarang saatnya share ya. Semoga saja bermanfaat.

Jadi di bulan Januari 2014, saya terkena virus (lupa nama ilimiahnya) dan infeksi saluran kencing. Setiap kena angin kalau keluar rumah, pulangnya pasti lemes. Saya sakit kurang lebih tiga bulan, baru sembuh dua minggu sebelum Ujian Nasional SMA. Masuk sekolah seminggu cuma 3 kali atau kurang, karena kalau kambuh saya nggak bisa bangun dan keadaaan ini terpaksa membuat saya harus bolak-balik dokter, dan cek darah. 

Entah berapa jumlah biaya yang orang tua saya habiskan untuk rawat jalan selama tiga bulan saat itu, karena waktu itu saya belum terlindungi asuransi.

Lebih sedihnya lagi setelah sembuh dan mengikuti UAN, tepat di hari ketiga ujian nasional, sepulang sekolah saya menyaksikan rumah saya ramai sekali. Lutut saya gemetar, dan di dalam rumah saya saksikan ayah saya yang tiba-tiba lupa siapa saya. Siapa yang tidak teriris hatinya? Sedih sekali harus mengulang cerita ini.

Ayah saya divonis terkena gangguan syaraf, diminta terapi pada dokter spesialis. Semua orang tahu pasti betapa mahalnya konsultasi dan terapi di dokter spesialis syaraf. Dan yang paling-paling menyedihkannya lagi, saat itu Ayah tidak terlindungi asuransi apapun dan keadaan perekonomian keluarga benar-benar berada di titik terendah. Saya hanya bisa menangis, belum lagi melihat adik saya yang masih kelas 5 SD saat itu, rasanya dia terlalu kecil untuk menerima musibah seberat ini. Tapi Alhamdulillah saya punya Ibu yang tegar, yang tahu betul cara bertindak dengan tenang saat dalam masalah seberat apapun.

Kehidupan saya benar-benar “sulit” saat itu. Keluarga saya benar-benar harus menghemat berlebihan agar bisa bertahan hidup. Jangankan untuk berobat, makan sehari-hari saja rasanya sulit sekali waktu itu. Saya yang berniat melanjutkan kuliah di luar kota, harus mengubur dalam-dalam impian saya untuk kuliah. Waktu itu saya berencana untuk menunda, bahkan tidak akan kuliah sama sekali.

source: weheartit

Tak mau berlarut-larut, Ibu saya kemudian segera mengikuti asuransi. Tidak ada asuransi sebelumnya dalam keluarga saya karena opini Ayah “kami masih mampu”. Ternyata Allah selalu punya cara untuk membuat kita sadar kalau kebahagiaan itu selalu sementara. Belajar dari kejadian ini, saya merasa jaminan masa depan itu penting banget. Jujur diantara pilihan tabungan, investasi, atau asuransi. Saya setuju dengan Ibu saya yang memilih asuransi.

Alasannya, jika menabung dan terkena sakit parah atau sakit dan kecelakaan tiba-tiba, tabungan tersebut akan habis digunakan atau bahkan bisa saja kekurangan untuk menutupi keseluruhan biaya. Kedua, jika memilih investasi, kita tidak tahu bagaimana perekonomian di masa yang akan datang. Bisa jadi saat kita sakit dan membutuhkan biaya, nilai investasi justru sedang turun dan alhasil kita kekurangan biaya.

Berbeda dengan asuransi, cukup dengan membayar premi tiap bulannya sesuai ketentuan, maka jaminan bagi kita sudah pasti.

source: weheartit

Asuransi itu banyak macamnya, ada asuransi jiwa yaitu untuk menjamin di masa sakit kita, ada juga asuransi hari tua, asuransi pendidikan, asuransi rumah, bahkan mobil. Sayangnya, berdasarkan berita dari Tribun Jambi per tanggal 24 Oktober, Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) I Otoritas Jasa Keuangan Edy Setiadi mengatakan dari jumlah masyarakat Indonesia, yang terjamin asuransi baru 11,8 % saja. Hal ini tentu saja jauh dari kata wajar, atau dengan kata lain masih banyak masyarakat yang kurang paham akan pentingnya asuransi, mungkin termasuk saya dan keluarga.

Alasan lain bisa jadi karena kurangnya perusahaan asuransi yang dapat dipercaya. Sesuai data dari OJK, jumlah perusahaan asuransi per tanggal 31 Desember 2015  adalah  76 perusahaan asuransi umum, dan 50 perusahaan asuransi jiwa. Nggak perlu ragu buat kamu untuk memilih, Sinarmas MSIG Life pilihan yang tepat karena merupakan perusahaan asuransi yang terpecaya, profil perusahannya yang jelas, serta sudah  terbukti banyak mendapatkan pernghargaan.


Yuk, atur uangmu. Dari masa muda ini harus banget mempersiapkan diri untuk masa yang akan datang. Jangan sampai karena kurang informasi dan pemahaman, kamu malah mengalami hal yang pernah saya alami tersebut.

Semoga 2014 saya nggak akan pernah terulang di tahun-tahun berikutnya, dan kamu juga nggak akan pernah ngalamin, ya. aamiin

Wassalamualaikum.


Share:

6 comments

  1. Sama pernah berada di titik itu mba. Nggak mudah bisa keluar dari lubang jarum. Alhamdulillah bisa dilalui meski berdarah-darah.
    Perencanaan keuangan memang penting. Agar saat darurat kita punya dana yg bisa digunakan
    Salam kenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget Mba, alhamdulillah satu fase sudah terlewati dan in shaa allah akan membentuk pribadi kita yang lebih kuat lagi untuk fase berikutnya ya mba aamiin :)

      bener banget, kerasa banget manfaatnya skg yang namanya perencanaan keuangan itu hehe

      salam kenal kembali terima kasih sudha mampir :)

      Delete
  2. Alhamdulilah yaa Mba masa-masa itu sudah lewat. Insya Allah Mba dan keluarga sudah naik level dan lebih kuat lagi dari sebelumnya.

    Askes/BPJS termasuk ke asuransi kan ya Mba? Saya dan keluarga baru pakai Askes/BPJS aja nih hehe ya walaupun ga secanggih asuransi dari perusahaan asuransi swasta, tapi semoga cukup deh :")

    Btw, salam kenal yaa Mbaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah mba, aamiin aamin semoga semakin kuat untuk masuk ke tahap selanjutnya

      iya mba itu asuransi juga, yang terpenting mbak dan keluarga sudah punya jaminan yang jaga di kala sakit nanti, tapi semoga selalu sehat ya Mba. aamiin :)

      salam kenal kembali :)

      Delete
  3. Pengalaman memang menjadi guru yang sangat sempurna ya mbak....dan Tuhan telah memberikan hikmah yang besar atas pengalaman itu....sukses dan sehat selalu ya mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener banget mbak, pelajarannya dan hikmahnya banyak banget :)

      Aamiin ya Rabb, semoga senantiasa dilimpahkan rahmat untukmu juga :)

      Delete