Sepenggal Cerita Festival Pesona Senggigi 2016

by - 10:33:00 pm

Assalamualaikum,

Apa kabar? Saat menulis ini, Mataram sedang mendung dan tak ada bintang yang muncul. Semoga ditempatmu ada ya, biar kamu tau bahwa ada senyumku yang terkirim untukmu. halah

Sama dengan malam ini, semalam pun juga mendung bahkan hujan rintik-rintik sepanjang jalan pulang dari Senggigi sampai ke rumah. Tapi rintik-rintik itu seperti tak berpengaruh pada antusiasme warga yang mau menyaksikan agenda hiburan rakyat di Festival Pesona Senggigi 2016.

Festival Pesona Senggigi berlangsung dari tanggal 16 Sept- 19 Sept dan menyajikan aneka macam parade dan hiburan, mulai dari parade perahu, lomba volley pantai, atraksi gendang beleq serta tarian-tarian khas, sampai dengan hiburan dari komunitas lokal. 


Dari hari sebelumnya saya memang ingin ke Senggigi, tapi untuk melihat sunset bukan untuk menyaksikan acara festival pesona senggigi ini, karena memang tidak tau menau. Tapi selesai training dan dikabari ada festival pesona senggigi, saya jadi makin semangat ke Senggigi supaya bisa meliput acara festival pesona senggigi untuk di blog dan melihat sunset sebagai bonusnya (padahal aslinya mau coba "adek" baru , alhamdulillah akhirnya punya adek lagi setelah kehilangan 2 tahun silam dan kali ini dari jerih payah sendiri)

Saya berangkat jam setengah 6 kurang, dan sudah hopeless bisa dapet sunset karena mendung. Eh bener aja, ketika sampai di Senggigi keadaannya baru saja selesai hujan dan dibagian barat awannya masih abu-abu. Jangankan matahari, cahayanya saja tak nampak menyemburatkan keindahannya sore kemarin.


Meski spot panggung festival pesona Senggigi ada di belakang hotel Sentosa, tapi kami (saya dan Naya) memilih parkir di Pasar Seni Senggigi bukan di parkiran Senggigi Beach yang notabennya lebih dekat. Alasannya, lebih murah hahaha. 

Sampai di Pasar Seni, kami disambut dengan atraksi Peresean. Jadi Peresean itu seperti percampuran tarian dan bela diri, di mana dua orang laki-laki berusaha menyerang satu sama lain menggunakan perisai dan sebilah kayu sebagai tameng dan pedang mereka. Suasana cukup ramai karena kebetulan akan menuju malam minggu. Tapi sayang, hanya tersisa satu pertarungan saat saya dan Naya datang. Akhirnya kami berlanjut jalan ke Senggigi Beach menuju dermaga untuk berfoto-foto.



Azan berkumandang tapi keadaan dermaga masih ramai, beberapa ada yang berkemas sambil menyelesaikan acara berfoto mereka dan bahkan ada juga yang masih berenang. Tak jauh dari dermaga, ada sebuah mushalla kecil yang bisa kita gunakan untuk menunaikan ibadah. Salah satu hal yang nggak perlu dikhawatirkan saat di Lombok: keberadaan mushalla/masjid. Alhamdulillah, sebagai pulau seribu masjid dan penerima predikat Halal Destination, di Lombok akan selalu bisa kita dengarkan suara adzan dan nggak akan susah mencari mushalla terdekat.



Selepas maghrib ternyata acara belum mulai, kami lalu memilih untuk berjalan ke arah cahaya terang sebuah cafe milik salah satu hotel karena penasaran. Ternyata yang boleh masuk kawasan tersebut hanya tamu hotel, jadilah kami hanya bisa duduk dipinggir pantai dalam kegelapan. Benar-benar terasa ngenesnya. Dari tempat duduk kami, Senggigi begitu cantik terlihat semalam. Atau mungkin memang setiap malam, tapi saya yang nggak sadar.

pra opening, penampilan DJ Alivia


antusias penonton

soulmera percussion
Jam delapan suara lantunan musik yang keras khas EDM mulai terdengar dari sebelah utara dermaga, persisnya di panggung Festival Pesona Senggigi 2016. Acara dibuka dengan penampilan dari DJ Alivia. Sontak beberapa bule mendekati panggung dan menggerakan badan mengikuti alunan musik. Semakin malam semakin banyak orang mendekat, beberapa bahkan menggelar kain pantai dan duduk bersama sanak saudara mereka. Selesai penampilan dari DJ Alivia, acara dilanjutkan dengan penampilan dari kakak-kakak senior saya di Birama: Soulmera Percussion. Penampilan epik kolaborasi drum, saron, keyboard, dan alat perkusi lainnya. 

MC hits Mba Inta dan Kak Mudji yang kocak abis bikin penonton yang hadir termasuk saya ngga berenti ketawa. Thumb up!
Suasana Pasar Seni Sengigi yang cantik di malam hari
Saking asiknya mendengarkan sajian musik yang seru, tak sadar ternyata jam sudah menunjukan pukul 22.30. Masih belum terlalu malam memang tapi rumah saya cukup jauh dari Senggigi (sekitar 25-35 menit perjalanan), dan malam itu malam minggu juga bersamaan dengan Perayaan Hari Raya Kuningan umat Hindu. Menghindari macet jika semakin malam dan tentunya juga hujan, saya dan Naya kemudian memutuskan untuk pulang. Sayang memang acaranya baru satu jam dan kita harus pulang duluan. Tapi sungguh, Senggigi semalam sungguh cantik dan sudah membuat aku rindu untuk menemuinya lagi malam ini.

Wassalamualaikum.

You May Also Like

3 comments

  1. Eh-eh fontmu kok berubah? Enak pake yang kemarin lho.. Menurutku sih...
    Kamu nggak ngereciew blogger time, Ma? 😬
    W mah apa, anak rantau yang nggak bisa menyaksikan acara tempat tinggalnya sendiri huhu

    ReplyDelete
  2. Waah lagi-lagi lombok! Sengigi emang keren dah!

    dolinafatitela.blogspot.co.id

    ReplyDelete
  3. Halo ema, senang bisa berkunjung kesini dan bisa membaca tentangmu di blog ini. Salam kenal ema dari aku, Wida :)

    ReplyDelete