Puisi dan Makan

by - 8:40:00 pm

20.14 WITA

Dengan handphone disamping kanan laptop, kutelusuri beberapa food blogger. Entah, ketertarikan saya semakin menjadi-jadi dengan makanan. Yaiyalah, siapa yang nggak tertarik dengan makan, sih? Bukan itu maksud saya, tapi entah kenapa saya semakin suka dengan membuat, menakar komposisi, memanggang/mengukus/mengoven, kemudian platting, lalu icip menicip, dan review.

Semenjak dulu, saya memang sangat suka membuat kue, memasak, dan makan. Dan saya selalu merasa beruntung dengan makanan. Selain mebuat kenyang, rejeki saya lebih banyak ngalir dari makanan. Orang tua saya usahanya dibidang makanan, dan saya sendiri semenjak pertama kali berbisnis online di kelas dua SMA memulainya dengan berjualan cupcake. Perasaan saya saja atau memang begini faktanya, tapi kalau saya jualan barang lain semisal baju atau lainnya itu nggak se-rezeki makanan dan nggak bisa bertahan lama.

Tau kan apa yang paling membahagiakan? Kegemaran yang dibayar. Itulah yang saya rasakan dengan makanan. Menjalani yang saya gemari, dan dapet rejeki darinya. Mungkin blog ini akan menjadi sangat random beberapa minggu-bulan kedepan. Alasannya karena saya sudah bosan untuk tidak benar-benar menjadi diri saya sendiri. Segala tulisan saya tentang apapun yang ada dalam blog ini, memang murni dari perasaan saya. Saya suka jalan-jalan, dan suka dengan Lombok. Tapi sungguh saya tidak bisa berkhianat dari tulisan-tulisan dengan genre mellow dan makanan.

Semenjak awal saya sudah berkomitmen untuk tidak berbagi mengenai kehidupan pribadi (cinta, sedih, masalah, dll) dalam blog ini, tapi mungkin tidak ada salahnya menulis puisi tentang hidup ini, kan? Kalau semisalnya kita berteman di twitter (@aemaputri), di tahun 2010-2013 kalian pasti akan memberikan label "galau" kepada saya. Tidak, saya bukan galau dimasa itu (mungkin sedikit) tapi memang saya benar-benar suka syair, kata yang syahdu, dan puisi. Tapi dwitasari bukan tipe saya. Tidak bermaksud menyinggung tapi menurut saya tulisan beliau adalah sebuah penyampaian kegundahan di masa-masa jayanya dulu yang akan membuat pembacanya terbawa perasaan dan galau. Tipe saya seperti @hurufkecil, narasizaman, dan penulis kata-kata syarat makna yang tersirat lainnya.

Jadi, saya harap kamu tidak bosan dengan blog yang sangat mengikuti keinginan saya yang berubah-ubah ini. Mengertilah, saya sedang mencari titik nyaman untuk menunjukkan siapa saya.


Wassalam.

You May Also Like

1 comments

  1. Kenapa kamu gak buat blog satu lagi, khusus untuk food blogger? Walaupun sy bukan foodblogger, saya pernah nulis konten food dan dibayar :p

    ReplyDelete