Summer in Gili [Gili Air, Lombok]

by - 1:49:00 am

Assalamualaikum,

Hallo! Sebelumnya saya mau nanya nih, udah baca postingan saya tentang Gili Kondo sebelumnya? Setelah setahun ke Gili, akhirnya Januari lalu saya ke Gili lagi, yeay! Review singkat sudah saya tulis di postingan sebelumnya, dan sekarang saya mau cerita bagaimana setengah perjalanan saya ke Gili Air yang ada di bagian utara Lombok.

emaputeri

Semenjak kumpul di Rumah Fitri, saya dan teman-teman sudah merencanakan untuk pergi ke Gili Meno dengan pertimbangan tempat yang masih sepi, dan kami memang belum pernah kesana sebelumnya. Gili Meno ada di bagian utara Lombok, berderet dengan Gili Air, Gili Meno di tengah, kemudian Gili Trawangan. Perjalanan dari Mataram ke Pelabuhan Bangsal sekitar 40 menit dengan kecepatan motor 50 - 60km/h

Kami pergi dengan menggunakan 4 Motor, 3 boncengan dan 1 orang sendiri (Fitri si wanita tangguh). Sepanjang jalan saya kerjaannya komat-kamit baca doa terus sambil sesekali ngobrol bareng Andi yang bawa motor. Hari itu saya takut banget, karena malemnya firasat saya buruk dan sudah membatalkan untuk ikut. Tapi paginya saya ngerasa nggak enak sama yang lain, karena rencana matang dan waktu saya bilang nggak jadi ikut pasti mood mereka rusak dan akan membatalkan untuk pergi. Akhirnya, pagi itu saya putuskan untuk ngajak mereka pergi lagi, dan tanpa babibu kita langsung kumpul di Rumah Fitri.

Sampai di Bangsal, kami langsung parkir. Uniknya, parkir motornya bukan di pelabuhan tapi di jalan menuju pelabuhan. Di sana terdapat banyak jasa titip motor alias parkir. Tarifnya Rp 5.000/motor untuk setengah hari dan Rp 10.000 - Rp 15.000/motor untuk menginap. Waktu itu saya parkir di Rudys, jasa parkir paling dekat dengan pintu pelabuhan. Waktu ngeliat deretan tempat parkir gitu, saya langsung mikir "enak kali ya buat jasa parkir gini di Mataram, biar yang backstreet ngga perlu titip motor ke Mall kalau mau kencan sama si Kang Mas" hahahah

Untuk Gili Meno dan Trawangan, loket pembelian tiket ada di sebelah barat (sebelah kiri pintu pelabuhan). Harga tiket untuk ke Gili Meno dan Trawangan adalah 12.000/orang untuk public boat, dan 85.000/orang untuk speed boat. Sesampai di pintu loket, beberapa bapak-bapak datang menghampiri teman saya, kataya menawarkan cater speedboat 1.000.000 bolak-balik Gili Trawangan. Untuk ukuran rombongan itu bisa dibilang murah sih, tapi karena kantong kami kantong mahasiswa, kyknya speed boat bukan pilihan :) hhhh

Keberangkatan Public Boat ke Gili Trawangan selalu ada, cukup menunggu penumpang sejumlah 35 orang kapal akan siap berangkat. Beda sama Gili Meno yang hanya ada satu keberangkatan di jam 8 pagi, dan di jam 2 siang yang artinya kami sudah ketinggalan kapal. Akhirnya kami berdiskusi lama sampai 2 kali kembali ke loket tersebut, tapi akhirnya memutuskan ke Gili Air karena mereka (katanya) sudah bosen ke Gili Trawangan (lah saya padahal belum pernah *cry*). Loket tiket Gili Air ada disebelah kanan pintu masuk, harga tiketnya sama dengan tujuan ke dua Gili lainnya. Setelah membeli 7 tiket, kami duduk dipinggir pantai sambil menunggu 23 penumpang lainnya.



Penyebrangan dari Bangsal menuju ke Gili Air cukup singkat, sekitar 16 - 20 menit. Pagi itu cerah sekali, perjalanan laut kami cukup tenang meski sesekali ada ombak besar yang buat saya istigfar diatas kapal hahaha. Sampai di Gili Air akan muncul pemandangan seperti foto diatas; banyak kapal dan ada cidomo menunggu. Cidomo itu alat transportasi mirip delman, yang mana cidomo singkatan dari Cikar (Gerobak), Dokar (Rodanya yang besar), dan Motor (Bisa bergerak). Cidomo mengandalkan Kuda sebagai penarik geraknya. Gili itu pulau bebas kendaraan bermotor/mobil hanya ada cidomo dan sepeda untuk transportasinya, jadi pas banget buat kita yang emang sudah lelah dengan hiruk pikuk kota.


Di Gili Air kami memilih jalan kaki buat muter pulau, ketimbang naik Cidomo atau sewa sepeda (kantong mahasiswa). Nggak jauh dari pelabuhan kita udah mulai bisa liat banyak banget cafe dan tentu aja menu spesial Gili, yaitu es krim Gili Gelato. Duit seadanya dengan mode hemat membuat kami terus berjalan ke arah kiri dari pelabuhan tanpa mempedulikan cafe-cafe dengan makanan yang menggiurkannya, walaupun sesekali saya menoleh buat foto yang berakhir merengek ke temen bilang "yaAllah enaknya we, pengen"


Kemudian kami berhenti di dekat sebuah penginapan yang langsung menghadap ke laut, seperti foto diatas. Sebelumnya, selama perjalanan saya banyak banget dapat "panggilan-panggilan" dari Mas-mas ato Bapak-Bapak yang lagi bangun hotel & resto. Sampe temen saya bilang "kamu yang emang lambat, atau saya yang kecepetan jalan sih, Mo" saat saya minta ditemenin jalan di paling belakang. Jalan saya emang lambat, karena langkahnya kecil dan dikit-dikit stop buat foto. Maafkan aku teman-teman huhuhu



Kekeselan temenku berakhir saat sudah sampai di pinggir pantai. Kami langsung buat ancang-ancang untuk duduk di bawah pohon. Lautnya ijo banget, sampai ada bule yang jalannya ke tengah banget tapi nggak tenggelem-tenggelem hahaha. Itu kalo nggak panas banget dan banyak karangnya, saya pingin juga nyebur tapi harus ditahan-tahan. Pantainya masih sepi, cuman ada kami ber7 dan mba-mba penjaga hotel. Penjaga hotel di Gili ini baik-baik, kita dibolehin duduk di pantai sekitar area hotelnya, beda banget sama area Mataram yang kalo kita nginjekin kaki dikit di area hotel langsung di suit-in (pake peluit) sama pak satpamnya diminta lewat lain huhuhu


Saya ngga tahan buat ngga selfie, banyak banget selfie hari itu. Yang ini masih di tempat yang sama ,dengan latar hotel bambu mirip gazebo yang unyu banget, instagram-able. 

bule
jalanan di bagian kanan Gili Air, banyak bule naik sepedah dan ngelakson lucu

Setelah puas main dan foto di Pantai bagian kiri Gili Air, kita balik lagi ke arah loket pelabuhan buat mastiin kapal keberangkatan terakhir dan ternyata masih lama (kapal terakhir jam 4, dan saat itu masih jam 12). Kami memutuskan untuk jalan ke sisi kanan Gili Air, dan ternyata nuansanya vintage banget!!!! ya ampun saya yang suka banget vintage langsung ngga mau lepas hp buat motret, dan jalan makin super lambat. Ngga jarang saya jalan sendiri paling belakang, karena emang lambat banget bentar-bentar stop :"D

Cerita sisi kanan Gili saya lanjut di post berikutnya, ya. Cerita Gili dengan foto-foto diatas dijam segini buat saya makin kangen, pingin ke Gili. Semoga bisa kesana lagi, aamiin


Wassalamualaikum.

You May Also Like

10 comments

  1. Mamo suka menyeret nama saya huft.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya kamu komen setelah namamu sekian kali ada di blog saya hahah

      Delete
  2. tempatnya kerenn masih sepi gituuh..
    btw itu bisa kok mbaak instagramnya di embed gausah di screen capture gitu. aku juga sering memasukkan instagram ke post blog aku.
    btw salam kenal yah <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi salam kenal kembali mba laili :)
      Iya Gili Air masih sepi nggak serame Gili Trawangan, pas banget buat kita yang capek dan butuh ketenangan :D

      makasih banyak infonya <3 tapi yang itu emang aku sengaja hehehe biar keliatan caption dan IGku. saran mba laili aku coba di next post ya

      Delete
  3. Mbaaak Ema :D bisa kalik culik aku ke Lombok :3 suweeer ya, pantainya uwuwuwuwuwu banget itu :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. yakin mau diculik? :p nanti ngga mau pulang kalo udah di Lombok :p

      Delete
  4. Wuaaaaaah, seruuuu bangeeeet! Salah satu destinasi yang pengen aku datengin.

    ReplyDelete
  5. huwooo kereeeen....btw harga tiketnya bolak balik berapa yah mbak

    ReplyDelete