Tatapan setiap Langkahku

by - 8:46:00 pm

12 februari 2011
Pagi ini saya bertugas membantu ayah menarik jaring yang sudah dipasang semalam. “Semoga hari ini ayah mendapatkan hasil ikan yang banyak. Semoga saja Tuhan memberikan rezekinya kepada kami.”  Sampai dipantai ada yang berbeda. Pantai pagi ini sangat ramai, padahal saat ini baru jam setengah tujuh pagi. 20 meter dari arah saya datang, terlihat sekumpulan orang duduk dengan kertas ditangannya, entah apa yang mereka lakukan sepagi ini di pantai. “Apa mungkin mereka sedang membaca koran? Ah dasar orang kota yang aneh” batinku. Aku terus berjalan sambil memerhatikan sekumpulan orang itu. Aku merasa ada yang memerhatikanku, ya ketika aku melihat gadis jaket cokelat itu mencoba memalingkan wajah. Mungkin dia heran, apa yang akan kulakukan dengan peralatan yang aku bawa sekarang. Aku tidak menghiraukan tatapan gadis itu. Aku terus berjalan, berharap pagi ini ada banyak rejeki Tuhan yang akan ku dapat. Bismillahirrahmanirrahim

12 februari 2011
Latihan ke tigaku dipantai kali ini berbeda dengan biasanya. Ya biasanya aku latihan konsentrasi setiap jam 6 pagi di pantai bersama rekan-rekan ku. Pagi ini berbeda, mungkin karena lokasi kami juga yang berbeda. Kali ini kami memilih tempat di kampung nelayan, baru jam setengah 7 pagi. Namun nelayan sudah sibuk mencari nafkah. Sekumpulan ibu-ibu membawa keranjang diatas kepalanya, anak kecil membantu ayahnya menarik jaring-jaring yang sudah mereka letakkan mungkin kemarin. “Suasana pantai sangat sibuk” batinku. Ketika aku melihat 20 meter dari arah tempatku duduk, ada sosok sebaya denganku, sedang berjalan membawa peralatannya. Mungkin dia akan membantu ayahnya. Aku tertarik. Ku ikuti langkah kaki itu, setiap jejak kakinya dipasir halus itu tersapu ombak, lama kelamaan dia semakin jauh, dan dia melihatku. Seketika aku mencoba memalingkan wajahku, namun aku kelabakan, dia melihatku, ya dia telah melihatku.  Namun dia kembali berjalan. Ku pandangi langkah kaki tanpa sendal itu. “Dia itu luar biasa. Aku aja belum bisa seperti dia, bangun pagi-pagi buat bantuin papa. Aku masih bisa tidur waktu orang lain udah sibuk buat nyari makan” ada yang menepuk pundakku. Kembali ku lanjutkan latihan pagi itu bersama rekan-rekanku.

19 februari 2011
Pikiran saya kini didominasi oleh gadis berjaket cokelat itu. Dia telah menguasai sistem kerja otak saya. Pandangan sekilas itu ternyata meninggalkan kesan membekas. 1 minggu sudah berlalu sejak kejadian itu, tapi hati saya terus melacak keberadaannya. “dimana dia? Apakah dia akan datang menemui saya” saya masih ingin mencarinya. Mencari pandangan mata sipit itu. Langkah kaki saya terus menapaki pasir ini, namun jiwa saya seperti tidak ada. Seperti ada yang kurang saat ini, jam ini, menit ini, dan detik ini juga. Seperti ada yang mengambil setengah jiwa saya. Semoga saja saya akan menemukannya di tengah laut, ketika saya ikut Ayah saya berkerja.

10 februari 2017
Akhirnya kakiku bisa menginjak pasir ini lagi. Akhirnya aku bisa menghirup udara pantai ini lagi. Tepat 6 tahun lalu adalah terakhir kali aku kesini. Aku meninggalkan pantai ini dengan kesibukkan orang-orangnya, nelayan-nelayannya. Dulu aku kesini untuk latihan konsentrasi, sekarang aku kesini untuk observasi. Dulu aku meninggalkan pantai ini dalam keadaan kotor, namun sekarang pantai ini bersih, sangat bersih. Bahkan memiliki pintu masuk dengan tulisan “welcome”. Mungkin inilah hasil kerja keras kantor suamiku. Pantai ini disulapnya menjadi area wisata dengan memperkerjakan warga sekitar. Namun ada yang kucari sebenarnya dipantai ini. Ya, aku mencari langkah kaki 6 tahun lalu itu. Apa ia masih disini? Apa pekerja keras itu masih tetpa bekerja? Ah pasti dia sekarang sudah menjadi orang yang sukses. Ya aku berharap.

14 februari 2017
Hari ini adalah hari ulang tahun kantor saya yang pertama. Setelah bertahun tahun saya bekerja keras, akhirnya kini saya memiliki sebuah kantor yang telah menyulap pantai ini menjadi area wisata. Ulang tahun kantor saya pilih untuk merayakannya di area pantai tercinta saya ini. Pantai yang telah membawa saya menjadi pengusaha seperti ini. Acara berlangsung meriah,  tamu undangan begitu banyak. Saya mendekati rekan saya yang telah membantu saya untuk mengobservasi tempat ini 10 februari lalu. Ia datang bersama istrinya. Ketika saya mendekat, ada sebuah tatapan yang menghujam hati saya. Tatapan yang sangat saya rindukan. Tatapan ini persis seperti 6 tahun yang lalu. Tatapan gadis berjaket cokelat itu. Takdir tidak berpihak padaku. Ternyata dia istri bawahanku.


You May Also Like

0 comments