kaca dan jendela #3

by - 9:45:00 am

Karena jalan yang begitu macet, Tiara sampai dirumah lamanya sekitar pukul 11 siang, dia tak sabar ingin melihat suasana rumah lamanya, dan orang pertama yang ingin ditemuinya adalah Dika. Begitu turun didepan gang komplek, Tiara berlari menuyusuri jalan kompleknya. Ketika sampai sekitar 25 meter dari depan gang, Tiara bingung, ada yang berubah rasanya denga tempat ini. Ada yang berbeda dengan jalan-jalan di tempat ini. Ternyata 4 tahun telah membawa perubahan  yang cukup banyak untuk komplek ini. Memang dulu ketika Tiara masih tinggal disini, masih sedikit rumah yang ada, sedangkan rumah lainnya masih dalam proses pembangunan. Tiara tak menyangka jika, dalam empat tahun akan terjadi perubahan yang cukup banyak pada perumahan ini. Tiara kemudian berfikir, “jika perumahan saja bisa berubah, bagaimana dengan manusia? Apakah orang-orang disini juga berubah? Apakah penghuni perumahan ini juga akan berubah? Bukan tentangganya yang dulu? Dan apakah Dika masih tinggal disini?”  hal ini memang tidak dipikirkan oleh Tiara, ia berfikir bahwa Dika masih tinggal disana, dan Dika juga rindu padanya.
Ia kemudian melihat kearah cerminnya, sambil tersenyum, merapikan rambutnya.
 Pikiran itu coba ia hilangkan, ia kemudian melanjutkan perjalannya, dilihatnya ke arah kiri dan kanan, “benar-benar berbeda” gumamnya. Tiara mencoba mencari, dimana letak rumah lamanya, dan mencari letak taman tempat biasa ia menikmati indahnya langit senja. Tiara berhenti sejenak, memperhatikan rumah-rumah sekelilingnya. Dilihatnya rumah bercat biru di sebelah kiri jalan itu, “B-15. Berati gang depan itu block C”. Tiara melanjutkan perjalanannya, ia kemudian masuk ke dalam gang, dilihatnya Rumah berwarna krem itu, setelah Tiara mendekat, dilihatnya nomer rumah itu C-09. Itulah rumah Tiara, rumah tempat Tiara tinggal selama 12 tahun. Rumah itu terlihat kosong “mungkin orangnya pergi” kata Tiara bicara sendiri. Rumah itu memang sudah di jual pada salah satu teman ayahnya, karena jika ditinggal begitu saja, maka tidak ada yang akan mengurus rumah  tersebut, hal itu membuat keluarga Tiara menjual rumah itu.
Diambilnya lagi cerman dari kantung depan tasnya, dirapikannya rambutnya yang terurai berwarna coklat kemerahan karena terkena sinar matahari itu, diarahkannnya kelangit, awan biru berarakan  terlihat dari cermin itu, Tiara menongak, silau menuju matanya, ia kemudian minggir, dilihatnya lagi kearah langit, awannya begitu indah. Tiara berdecak kagum atas ciptaannya itu,
gejolak dada tak dapat kupungkiri, rindu hati tak dapat kusiasati. Aku bernaung dibawah jalanMu, aku kesini mengikuti kata hati. Semilir angin, balutan kabut awan yang menggumpal, arakan burung bersenandung memuji karunia dan rahkmat dariMu. Engkaulah Tuhanku, yang Maha Segalanya”
Tiara kemudian terhentak, ia sadar bahwa tujuannya kemari adalah untuk melepas rindu terhadap Dika, dilihatnya lagi langit, ia tersenyum, kemudian berjalan ke arah taman. Sepanjang jalan ia tidak melihat orang, mungkin orang-orang sedang tidur siang fikirnya. Jalan sepanjang komplek terus disusuri, sampai akhirnya taman itu terlihat. Tiara melihat ada orang di taman tersebut, 2 orang yang sedang berpacaran. Ia tidak tahu siapa orang-orang itu. Orang-orang itu duduk membelakangi arah datangnya Tiara. Baju yang dipakai orang itu kembar, mungkin baju pasangan, maklum orang jaman sekarang gemar memakai barang yang berapasangan. Tiara mencoba mendekati orang-orang itu. Ia ingin bertanya, adakah diantar mereka yang mengenal Dika. Tadi sebenarnya ia telah melewati rumah Dika, tapi rumahnya nampak sepi, akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk mencari Dika dirumahnya. Dan ketika Tiara semakin mendekat, ia seperti mengenal sosok wanita itu, ketika coba ke hadapan orang itu, benar saja, Tiara sangat mengenal orang itu, bahkan sangat kenal. Orang itu adalah Rila, Tiara kaget, bagaimana bisa Rila ada disana, Rila juga sebelumnya belum pernah menceritakan kalau dia punya pacar a palagi rumahnya di daerah sekitar sini.
“hay Ra, loh ngapain kemari?” sapa Rila yang juga terlihat kaget atas kedatangan Tiara
Belum sempat Tiara menjawab, mata Tiara tertuju pada tulisan yanga ada di baju lelaki itu. “DIKA” begitu tulisan nama di baju itu. Tiara memperhatikan sejenak lelaki itu, Ditatapnya dalam-dalam lelaki itu, dan dia benar benar  yakin sekarang, bahwa itulah lelaki yang ingin dia cari, itulah lelaki yang dia rindukan saat ini.
Kemudian ia tertawa histeris menghadap cerminnya, lalu menangis kemudian diam.
             Itulah sosok anak tampan dimasa lalunya itu yang membuat Tiara rela jauh-jauh datang keperumahan lamanya hanya untuk bertemu anak tampan di masa lalunya itu. Dan kini anak tampan itu berada dihadapannya, anak tampan itu kini berada hanya 1 meter dari Tiara. Namun Tiara tidak pernah mengaharapkan pertemuan seperti ini sebelumnya. Tiara tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Memang ini bukan salah Rila yang berpacaran dengan Dika, karena Rila tidak tahu apa-apa. Tapi perasaan Tiara rasanya benar-benar sakit. 4 tahun ia tak bertemu Dika, rasa rindu membucak dihatinya. Kini ia bertemu kembali, namun dengan suasana yang berbeda, suasana yang sangat mengiris hati Tiara. Tiara mencoba menerima kenyataan ini, tapi ada sebongkah batu yang menggumpal keras dihati rasanya.
“Tiara kamu kenapa?” Rila coba menyadarkan Tiara
“Tiara?” Dika bertanya heran
“iya dia Tiara sahabatku”
Tiara hanya diam, dia memang sahabat Rila. Dia kini tidak bisa berkata apa..
“pranggg” suara cermin jatuh dari tangan Tiara
Cermin biru dengan motif  berwarna pink dan ungu itu jatuh. Seketika cermin bertuliskan “DIKA – TIARA. LOVE & FRIENDSHIP” itu terbelah, tulisan dika terpisah dengan Tiara. Dika terhenyak, ia ingat betul itu adalah cermin yang dia tinggalkan untuk Tiara ketika ia bermain bersama dulu. Dika sadar itu adalah Tiara temannya bermain dulu. Sahabat yang sangat ia sayangi.
 Tiara menangis, kemudian ia duduk, di ambilnya serpihan kaca itu.
             Ia benar-benar runtuh, hantinya tidak bisa menerima hal ini. Ia tidak bisa memiliki Dika, tapi dia akan bersama cermin itu selamanya. Cermin itulah Dika yang dia miliki. Dia tidak ingin Dika meninggalkannya untuk kedua kalinya.
“Tiara?” Dika mencoba menyadarkan Tiara yang sedari tadi tiada hentinya mengeluarkan air mata
“iya?” Tiara mencoba tersenyum
“kamu kenapa? Ngapain kesini?”
“aku kangen taman ini. Aku kangen langit senja. Aku kangen jendela itu.” Tiara mencoba menjawab dengan tersenyum, ditunjuknya jendela kamar rumah lamanya yang meghadap ke arah taman. Itu memang jendela favoritnya dulu. Disetiap kamar yang dia tempati, jendela adalah hal terfavorit baginya, baginya jendela adalah mata dunia. Dia bisa melihat apa saja dari sana, dia bisa menikmati nikmat Tuhan apa saja dari sana.
Dika tersenyum “kamu mau kerumahku?”
“enggak aku mau pulang aja. Aku udah liyat jendela itu kok” Tiara mengelak. Sejujurnya dia rindu pada Dika, tapi apa daya, kini Dika adalah milik sahabatnya, Tiara hanya bisa menjadi temannya.
“kamu mau aku anter?” Dika mencoba membuat Tiara tenang
 Tanpa menjawab, Tiara berlari menjauhi Dika dan Rila. Ia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Hatinya beanr-benar sakit, seperti teriris-iris. Rila heran, mengapa Tiara bisa seperti itu, yang ia tahu Tiara itu adalah gadis periang. Dan sampai sekarang, itu masih pertanyaan untuk Rila, mengapa Tiara bisa seperti itu. Rila hanya bisa membiarkan Tiara pergi, dia tidak ingin mengejarnya karena dia tahu betul sahabatnya itu tidak akan mau berbicara ketika ia sedih. Rila kini hanya bisa menyimpan tanda tanya besar tentang Dika Tiara dan dirinya.
Sedangkan Tiara, sepanjang perjalanan hanya bisa menangis. Ia tidak tahu harus meluapkan emosinya pada siapa, ia tidak tahu harus meluapkan emosinya denga cara bagaimana, satu-satunya teman yang ia miliki adalah cermin, dan tentu saja jendela bus yang sekarang ia tumpangi, ia memilih duduk di kursi dekat jendela, karena ia ingin menikmati karunia Tuhan diluar sana, ia ingin meluapkan emosinya kejalanan yang ramai itu, tentu saja bukan dengan teriak-teriak dijalan dan memanggil seseorang yang membuatnya terlihat seperti orang gila. Ia hanya bisa mengeluarkan keluh kesahnya dengan menatap kehidupan diluar jendela itu, menikmati karunia Tuhan. Melihat dunia kecilnya. Setidaknya, itu bisa membuat dia menjadi sedikit tenang. Sesampainya didepan rumah, Tiara berjalan cepat, ada yang ganjal dalam pikirannya, seperti ada firasat yang sangat aneh, batinnya terasa begitu kuat memanggil, dan benar saja, begitu memasuki ruang keluarga, ia tersentak kaget, dilihatnya kakak yang sangat disayanginya itu tergeletak dilantai. Tiara begitu kaget, siapa yang tega melukai kakaknya itu, siapa yang tega membuat kakaknya tergeletak begitu saja dilantai yang dingin itu.
Air mata Tiara menitik, dilihatnya jendela, ia menatap jendela itu dalam-dalam.
Ia mencoba mencari jawaban tentang hal ini, namun yang ada air matanya semakin mengalir deras dipipinya yang halus itu. Tiara mendekati kakaknya yang tergeletak dengan busa putih yang keluar dari mulutnya, ia duduk bersimpuh, mencoba menyadarkan kakak satu-satunya itu, dilihatnya ada jarum suntik di tangan ksatria keluarganya itu. Dia mengerti, mungkin kakaknya sedang menggunakan narkoba. Tiara tidak pernah menduga, kakak yang selama ini ceria, selalu menggangunya ternyata memakai obat-obatan terlarang. Tiara ingat betul dia pernah diajarkan disekolahnya bahwa narkoba (Narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif) bisa membuat kecanduan bagi penggunanya, dulu narkoba itu digunakan untuk membius pasien ketika hendak operasi. Namun kini salah digunakan. Dan Tiara sadar, mungkin itulah yang terjadi pada kakaknya, ia telah menggunakan obat ini pada jalan yang terlampau salah. Tiara benar-benar terpukul hari ini, hari yang telah ia nantikan ini, hari yang menurut Tiara akan jadi hari paling bahagia, tapi yang terjadi malah sebaliknya, orang yang dia rindukan kini telah menjadi milik sahabatnya. Belum selesai semua itu, kakak yang Tiara anggap super hero hidupnya itu ternyata menggunakan Narkoba, hal yang tidak pernah Tiara bayangkan sebelumnya.
19.00 WIB, telah meninggal dunia Rino Pratama. Hati Tiara begitu terpukul, orang tua Tiara juga begitu, ibu Tiara kini masih terkulai lemas, ia tidak bisa menahan diri, tangisnya tumpah ruah, ia berteriak memanggil nama anak pertamanya itu. Anak laki-laki satu-satunya itu kini telah meninggalkan keluarga itu, ia telah pergi meninggalakan keluarganya terlebih dahulu menuju surga. Malam itu Tiara menangis sejadi-jadinya, ia begitu terpukul, batinnya menangis, ia berteriak, entah apa yang meracuninya sekarang, suaranya begitu keras, teriakannya begitu histeris, ia tidak pernah menangis seperti ini sebelumnya. Tiara memang sangat dekat dengan kakaknya, walaupun sering berkelahi, tapi ia begitu menyayangi kakaknya itu.
Tiara yakin kakaknya itu belum meninggalakannya, ia yakin kakaknya kini ada didekatnya, sedang menyaksikan betapa hatinya terpukul, betapa teriris hatinya, dan betapa tersiksa batinnya. Ia menangis kemudian tertawa, kemudian memukul jendela kamarnya “pranggg” kaca itu pecah.
            Tiara berteriak memanggil kakaknya, tangisnya berhenti, ia kemudian duduk dijendela, menghadap kearah langit yang sedang menangis, mengiringi duka hatinya, diajaknya langit itu bicara “langit biru, tanda kecerahan hatiku, langit hujan membantuku menangis, Tuhan kamu lihat aku kan? Aku tahu diantara ribuan bintang itu, ada tersimpan senyum kakakku, dan sekarang kakakku sedang duduk disampingku, aku tahu itu. Kambalikkan kakakku!!!” Tiara kembali menangis, dia benar-benar tidak terima kenyataan ini, mengapa hidupnya berubah dalam waktu sehaari. Baru hari kemarin rasanya, ia bermain bersama kakaknya namun kini kakaknya sudah harus meninggalkannya dengan cara seperti itu.
Ia berteriak lagi, ia bersimpuh, bersujud dilantai, ia kemudian tertawa, diam, kemudian menangis lagi. Entah apa yang dia lakukan, mungkin dia sudah benar-benar gila, dan memang sekarang dia gila.
Malam itu Dika ternyata juga datang melayat kerumah Tiara. Hal ini ternyata tidak membuat Tiara bisa lebih tenang,  ia malah semakin terpukul. Dilihatnya Dika datang bersama Rila, semakin terpukullah hati Tiara, ia tidak ingin bertemu Dika sekarang, ia tidak ingin bertemu siapapu.
emosinya meninggi lagi, dibantingnya pintu itu sekencang-kencangnya, ia kemudian menangis sejadi-jadinya. Ia berteriak histeris mengikuti kata batinnya yang begitu terpukul.
Empat bulan sepeninggalan kakaknya, keluarga Tiara kini sudah tidak seharmonis dulu. Tiara jarang bicara, Ibu dan Ayahnya juga jarang berkomunikasi lagi, terkadang Ayah Tiara pulang larut malam, tidak seperti dulu, mereka begitu sering makan malam bersama, bukan sering sebenarnya tapi memang setiap hari. Tapi kini, makan malah itu jarang ada, bahkan tidak pernah.  Mamanya  semakin terpukul dengan hal ini, semakin terpukul dengan keadaan tiara saat ini, ia mencoba memperbaiki hubungan keluarganya. Sementara Tiara, kini ia merasa tidak punya siapa-siapa lagi, Dika sudah menjadi milik temannya, kakak yang sangat disayanginya lebih dulu menunggunya di surga, Tiara kini hanya memiliki cermin dan jendela favoritnya tentu saja. Di ambilnya cermin itu dari laci lemarinya, cermin itu kini hanya tinggal 1/3 dari bagian utuhnya.
Diajaknya cermin itu berbicara, ia mencurhakan isi hatinya sambil duduk di jendela kamarnya yang telah pecah karena dipukulinya tadi, ia menangis, berbicara, tertawa histeris, kemudian ia berhenti bercerita tentang hidupnya yang dahulu, ia lalu bernyanyi seperti orang gila lainnya sambil duduk diam di jendela sudut kamarnya di rumah sakit jiwa itu.

You May Also Like

4 comments